Abdul Haris, Petani Bertangan Dingin Bermodal Ketekunan Raup Untung Besar

Madina, Sumtengpos – ”Saya hanya punya modal niat dan kemauan serta kerja sunguh-sungguh karena saya bukan orang berpendidikan, dan hanya tamatan SD”

Penggalan kalimat ini disampaikan Abdul Haris (38) di sela-sela menjelaskan program pertanian yang sedang digelutinya dan terbilang sukses dan sudah berhasil meraup uang jutaan rupiah dari hasil bertani sayuran.

Abdul Haris, merupakan penduduk Desa Purba Baru Kecamatan Lembah Sorik Marapi Kabupaten Mandailing Natal (Madina), telah dikaruniai seorang istri dan empat orang anak yang masih kecil-kecil. Anak pertamanya saat ini berusia dua belas tahun dan duduk di bangku sekolah dasar.

Ia menjalani usaha pertanian ini bermula dari kerja sama kemitraan kelompok tani Putra Aek Singolot dengan community development (CDCR) PT SMGP (Sorik Marapi Geothermal), perusahaan pengembang pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kabupaten Madina. Program kemitraan ini berjalan pada periode bulan Juni 2023 hingga Februari tahun 2024.

Komoditi pertanian yang dikembangkan yaitu tanaman cabai, timun, dan kacang panjang itu dilaksanakan di ladang anggota kelompok.

Dan selama program tersebut berjalan, kelompok tani Putra Aek Singolot ini mendapat pendampingan dari tim community development PT SMGP yakni Ngalim dan Ghina Putri Nabilah, dan tentunya dimonitor Akhiruddin selaku ketua kelompok tani

Abdul Haris menjelaskan bahwa kehidupan ekonomi keluarga semenjak ia kecil dengan kondisi yang terbatas, sehingga sampai menikah dan punya anak saja pun belum punya rumah dan lahan untuk usaha tani.

Dengan kondisi demikian, Haris dengan rela bekerja serabutan apa saja dan penuh semangat memanfaatkan waktu yang penting halal. Salah satunya Haris sampai saat ini bekerja di show mill milik Muhammad Saleh Desa Purba Baru. Meskipun gajinya hanya cukup buat kebutuhan makan sehari-hari

Orang tua Haris semasa mudanya bekerja sebagai petani sehingga Haris mau tidak mau tanpa disadari ikut belajar bertani dari kecil. Saat ini Haris bertani dengan cara meminjam lahan tetangga dan atau saudara karena tidak memiliki lahan sendiri, tempat tinggal saja pun ia masih bergabung satu rumah dengan orang tua alias belum memiliki rumah sendiri.

Karena keterbatasan itu pula, Haris semangat dan sungguh-sungguh untuk berbuat setiap ada kesempatan untuk mendapatkan modal usaha. Tiga kali Haris mencoba untuk ikut ke program kelompok agar bisa mendapatkan modal usaha tetapi usahanya belum berhasil.

“Awal tahun 2023, ada program CSR melalui Community Development atau pemberdayaan Masyarakat dari PT SMGP. Alhamdulillah terpilih menjadi salah satu anggota kelompok program di Kelompok Tani Putra Aek Singolot dengan program usaha budidaya tanaman cabai keriting.

Anggota Kelompok Tani Putra Aek Singolot yang mendapat bantuan program comdev dari PT SMGP sebanyak 16 orang. Bantuan dari SMGP berupa sarana produksi pertanian berupa Benih, Mulsa, pupuk dan obat-obatan senilai Rp 44.727.000 sehingga terbilang perorang paket bantuan senilai Rp 2.795.000,” ungkap Haris.

Ia mengatakan, program pemberdayaan untuk budidaya tanaman cabai ini dilakukan oleh PT SMGP secara utuh mulai pembekalan teknis bertani, pemberian bahan dan pendampingan dilapangan secara rutin.

Alhasil kegiatan dimulai dari bulan Juni 2023 sampai Februari 2024 dengan kondisi iklim curah hujan yang tidak bisa diprediksi, tapi mayoritas memberikan hasil panen dan pendapatan yang mengembirakan dengan total panen keseluruhan 2332,4 Kg senilai Rp 80.339.050

Keberhasilan bertani cabai keriting Merah ini salah satunya di rasakan oleh Abdul Haris. Berkat usaha dan keuletan hasil bertani cabai keriting merah bisa meraup pendapatan sebesar Rp 17.840.000 dari modal Rp 2.795.000

Di sisi lain, Abdul Haris berbagi tips bagaimana mengelola pertanian sehingga dapat meraup pendapatan sebesar itu, serta bagaimana cara mengelola modal bantuan PT SMGP melalui bertanam cabai keriting merah

Pertama, Program cabai: jumlah tanaman 1.200 pokok. Panen 14 kali/periode, 238 kg, dengan nilai rupiah Rp 8,9 juta dari hasil penjualan cabai, uangnya untuk kebutuhan rumah tangga, kemudian ia membeli membeli tanah pekarangan ukuran 8×13 M , dan sisanya ia membeli benih timun sebanyak dua pack

Kedua : Setelah selesai panen cabai, lobang bekas tanaman cabai ditanami bibit Timun jumlah tanaman 340 batang (170 lobang) dengan total panen sebanyak 1.780 Kg ini tidak termasuk yang dikonsumsi dan dibagikan ke tetangga. Dari 1.780 Kg dijual dengan harga rata-rata Rp 5 ribu perkilo. Sehingga terkumpul uang sebesar Rp 8.900.000. uang dari hasil penjualan timun, sebagian untuk menambah membangun rumah yaitu sebesar 6.000.000. dan sisanya untuk modal usaha tani (tanam Kacang panjang dan cabai) sebanyak 600 batang (300 lobang) + tanaman Cabai 400 dan sebagian untuk kebutuhan sehari hari.

Usaha penanaman Kacang panjang dan Cabai saat ini sedang berlangsung sekitar umur kurang lebih 1 bulan. Semua kegiatan bercocok tanam ini dilakukan sendirian hanya dibantu isteri jika saat panen.

“Untuk pemasaran hasil tidak ada kendala karena banyak teman teman yang jadi pedagang sayuran di pasar Panyabungan,” sebutnya.

“program community development PT SMGP ini sangat membantu kami mengawali usaha ini. Dari awalnya sama sekali tidak punya konsep, tapi sekarang kami sudah punya pengetahuan mengembangkan usaha pertanian.

Tentunya kami mengucapkan terima kasih kepada PT SMGP. Tapi tak kalah penting adalah anggota kelompok tani mau mengikuti petunjuk dan bimbingan dari tim comdev PT. SMGP dan anggota kelompok tani harus berani berinovasi memberikan penambahan bahan obat-obatan sesuai kebutuhan di lapangan agar berhasil,” jelasnya

Saat ini Abdul Haris tengah berbahagia karena sudah bisa membeli tanah pekarangan dan membangun rumah walaupun dengan ukuran sempit berkat bantuan modal dari PT SMGP. Ia tak lupa berpesan kepada anggota kelompok agar mengikuti arahan teknis dari pembina,

“namanya belajar tentu harus mengikuti semua arahan pembimbing, karena kalau pendidikan saya tak punya. Saya hanya punya modal niat dan kemauan serta kerja sunguh-sungguh,” pesannya mengakhiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here